Tampilkan postingan dengan label Berita Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Nasional. Tampilkan semua postingan

Pesan Teroris Buat SBY
INILAH.COM, Jakarta – Teror bom di Hotel JW Marriott dan The Ritz-Carlton jelas membawa pesan yang berkaitan dengan kemenangan politik SBY-Boediono dalam Pemilu Presiden 2009. Di tengah dukungan AS dan dunia internasional untuk SBY, teroris seolah ingin berpesan bahwa Indonesia masih dalam jangkauan tangan mereka. Inilah tantangan untuk aparat!
Tak bisa dipungkiri bahwa dukungan AS dan dunia internasional terhadap kelanjutan pemerintahan SBY terus menguat. Ini tercermin dari isu dukungan AS untuk SBY hingga rencana kedatangan klub sepakbola Inggris, Manchester United, ke Indonesia dalam rangka pertandingan persahabatan. Namun dukungan politik itu seolah membuat Polri, BIN, dan TNI terkesan lengah.
Menguatnya dukungan politik dari AS, terakhir terkemas dalam ucapan selamat Presiden AS Barack Obama kepada SBY yang dinilai telah sukses melaksanakan pemilu, meskipun pasangan SBY-Boediono belum diresmikan menang oleh KPU.
"Bom ini kuat hubungannya dengan reaksi kalangan kaum radikal dan fundamentalis terhadap demokrasi dan SBY yang didukung AS dan negara Barat. Ditambah lagi dengan momentum lawatan Manchester United," kata Al Chaidar, pengamat terorisme dari FISIP Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh.
Menurut dia, terorisme di Indonesia sangat kuat hubungannya dengan Amerika. Apa pun yang berkaitan dengan negara kapitalis tersebut akan dijadikan sasaran. Demokrasi, misalnya, adalah program ideologi Amerika Serikat dan sekutunya di mana pun, termasuk di Indonesia.
"Terhadap SBY, kalangan teroris sebenarnya memiliki resistensi yang tinggi. Bukan hanya karena isu Neoliberalisme, melainkan kemenangan SBY ini dianggap sebagai kemenangan AS di Indonesia, di mana lembaga-lembaga demokrasi AS dicurigai ikut berpartisipasi dalam pilpres Indonesia, seperti IFES dan lain-lain," tuturnya.
Dengan kata lain, bom ini jelas merupakan reaksi bagi kemenangan SBY sebagai presiden Indonesia yang akan melanjutkan pemerintah negeri ini hingga 2014.
Bom Kuningan ini, menurut Al Chaidar, adalah juga reaksi terhadap rencana kedatangan tim sepak bola MU ke Indonesia. "Bukan karena pilihan ketidaksukaan mereka terhadap oleh raga tertentu, melainkan karena yang dijadikan sasaran adalah orang asing (Inggris) yang dianggap sekutu AS," kata Al Chaidar.
Hal ini juga akan membuat teroris tidak tertarik untuk menyerang gedung olahraga Senayan, jika pertandingan sepak bola berlangsung. Bahkan pemimpin teroris dunia Osama Bin Laden sangat menyukai klub bola Arsenal dari Inggris.
Implikasi lain dari bom Marriot ini adalah bahwa kaum teroris menjadikan hotel JW Marriott sebagai sasaran tetap.
Pandangan Al Chaidar itu senada dengan pendapat Sydney Jones, dari International Crisis Group. "Hotel ini adalah lambang kehadiran kapitalisme dan liberalisme Amerika di mana pun, di Pakistan maupun di Indonesia. Yang ingin diserang teroris adalah simbol-simbol kapitalisme, demokrasi dan Neoliberalisme Amerika Serikat di mana pun ia berada," kata Sydney.
Para analis melihat, Indonesia adalah sasaran yang empuk bagi kaum teroris dan keberadaan mereka di Indonesia menjadi sangat nyaman karena negara ini merupakan fertile ground bagi gerakan-gerakan radikal. Dari pengakuan para tersangka tindak pidana terorisme Bom Bali 12 Oktober 2002, jelas terlihat sebuah ekspresi emosi keagamaan.
Ada suatu nilai yang bekerja dan mendikte jalan pikiran mereka. Ali Ghufron, salah seorang tersangka teror Bom Bali, misalnya, menyatakan bahwa pemboman itu adalah 'aksi pengabdian kepada Tuhan.' Maka Ali Ghufron, Imam Samudra, Amrozi, dan kelompoknya merasakan suatu delusion of grandeur, perasaan mendapatkan titah dan menjadi bagian dari unsur kebesaran yang berkeyakinan dirinya mengemban misi khusus dari Tuhan.
Prof Engseng Ho, antropolog dari Harvard University, AS, berpendapat kaum teroris senantiasa merasa diri sebagai 'pejuang Tuhan' yang tepanggil untuk bertindak atas nama Tuhan dan agama, menjadi 'tangan Tuhan' di muka bumi untuk merealisasikan 'kemurkaan-Nya' dalam sebentuk resistensi, pemboman.
"Akibat dari interpretasi dan ekspresi emosi keagamaan yang delusif ini, maka tragedi pun terjadi dan sejumlah besar spekulasi pun muncul di tengah-tengah publik,' kata Prof Engseng Ho.
Kaum teroris, kata Al Chaidar, bukanlah kelompok baru dalam dunia pergerakan radikal dan fundamentalis Indonesia. Kaum teroris adalah gabungan dari inti ajaran fundamentalis dan radikal yang bertemu dalam satu titik perencanaan perang melawan kezaliman.
"Di Indonesia, kelompok teroris ini berjumlah kecil. Pertama Jamaah Islamiyyah dan kedua Darul Islam, meski terbatas pada faksi tertentu. Mereka masih bergerak dengan model jaringan dan sel-sel yang aktif," ujar Al Chaidar.
Sehingga, sebagaimana ditemukan beberapa enklaf teroris di Palembang dan Jawa Tengah, semakin menunjukkan bahwa proliferasi kelompok ini berjalan dengan luas dan cepat. Indonesia yang lemah dan rawan di bawah Presiden SBY, akan terus menghadapi situasi teror ini di masa depan. [P1]
Tak bisa dipungkiri bahwa dukungan AS dan dunia internasional terhadap kelanjutan pemerintahan SBY terus menguat. Ini tercermin dari isu dukungan AS untuk SBY hingga rencana kedatangan klub sepakbola Inggris, Manchester United, ke Indonesia dalam rangka pertandingan persahabatan. Namun dukungan politik itu seolah membuat Polri, BIN, dan TNI terkesan lengah.
Menguatnya dukungan politik dari AS, terakhir terkemas dalam ucapan selamat Presiden AS Barack Obama kepada SBY yang dinilai telah sukses melaksanakan pemilu, meskipun pasangan SBY-Boediono belum diresmikan menang oleh KPU.
"Bom ini kuat hubungannya dengan reaksi kalangan kaum radikal dan fundamentalis terhadap demokrasi dan SBY yang didukung AS dan negara Barat. Ditambah lagi dengan momentum lawatan Manchester United," kata Al Chaidar, pengamat terorisme dari FISIP Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh.
Menurut dia, terorisme di Indonesia sangat kuat hubungannya dengan Amerika. Apa pun yang berkaitan dengan negara kapitalis tersebut akan dijadikan sasaran. Demokrasi, misalnya, adalah program ideologi Amerika Serikat dan sekutunya di mana pun, termasuk di Indonesia.
"Terhadap SBY, kalangan teroris sebenarnya memiliki resistensi yang tinggi. Bukan hanya karena isu Neoliberalisme, melainkan kemenangan SBY ini dianggap sebagai kemenangan AS di Indonesia, di mana lembaga-lembaga demokrasi AS dicurigai ikut berpartisipasi dalam pilpres Indonesia, seperti IFES dan lain-lain," tuturnya.
Dengan kata lain, bom ini jelas merupakan reaksi bagi kemenangan SBY sebagai presiden Indonesia yang akan melanjutkan pemerintah negeri ini hingga 2014.
Bom Kuningan ini, menurut Al Chaidar, adalah juga reaksi terhadap rencana kedatangan tim sepak bola MU ke Indonesia. "Bukan karena pilihan ketidaksukaan mereka terhadap oleh raga tertentu, melainkan karena yang dijadikan sasaran adalah orang asing (Inggris) yang dianggap sekutu AS," kata Al Chaidar.
Hal ini juga akan membuat teroris tidak tertarik untuk menyerang gedung olahraga Senayan, jika pertandingan sepak bola berlangsung. Bahkan pemimpin teroris dunia Osama Bin Laden sangat menyukai klub bola Arsenal dari Inggris.
Implikasi lain dari bom Marriot ini adalah bahwa kaum teroris menjadikan hotel JW Marriott sebagai sasaran tetap.
Pandangan Al Chaidar itu senada dengan pendapat Sydney Jones, dari International Crisis Group. "Hotel ini adalah lambang kehadiran kapitalisme dan liberalisme Amerika di mana pun, di Pakistan maupun di Indonesia. Yang ingin diserang teroris adalah simbol-simbol kapitalisme, demokrasi dan Neoliberalisme Amerika Serikat di mana pun ia berada," kata Sydney.
Para analis melihat, Indonesia adalah sasaran yang empuk bagi kaum teroris dan keberadaan mereka di Indonesia menjadi sangat nyaman karena negara ini merupakan fertile ground bagi gerakan-gerakan radikal. Dari pengakuan para tersangka tindak pidana terorisme Bom Bali 12 Oktober 2002, jelas terlihat sebuah ekspresi emosi keagamaan.
Ada suatu nilai yang bekerja dan mendikte jalan pikiran mereka. Ali Ghufron, salah seorang tersangka teror Bom Bali, misalnya, menyatakan bahwa pemboman itu adalah 'aksi pengabdian kepada Tuhan.' Maka Ali Ghufron, Imam Samudra, Amrozi, dan kelompoknya merasakan suatu delusion of grandeur, perasaan mendapatkan titah dan menjadi bagian dari unsur kebesaran yang berkeyakinan dirinya mengemban misi khusus dari Tuhan.
Prof Engseng Ho, antropolog dari Harvard University, AS, berpendapat kaum teroris senantiasa merasa diri sebagai 'pejuang Tuhan' yang tepanggil untuk bertindak atas nama Tuhan dan agama, menjadi 'tangan Tuhan' di muka bumi untuk merealisasikan 'kemurkaan-Nya' dalam sebentuk resistensi, pemboman.
"Akibat dari interpretasi dan ekspresi emosi keagamaan yang delusif ini, maka tragedi pun terjadi dan sejumlah besar spekulasi pun muncul di tengah-tengah publik,' kata Prof Engseng Ho.
Kaum teroris, kata Al Chaidar, bukanlah kelompok baru dalam dunia pergerakan radikal dan fundamentalis Indonesia. Kaum teroris adalah gabungan dari inti ajaran fundamentalis dan radikal yang bertemu dalam satu titik perencanaan perang melawan kezaliman.
"Di Indonesia, kelompok teroris ini berjumlah kecil. Pertama Jamaah Islamiyyah dan kedua Darul Islam, meski terbatas pada faksi tertentu. Mereka masih bergerak dengan model jaringan dan sel-sel yang aktif," ujar Al Chaidar.
Sehingga, sebagaimana ditemukan beberapa enklaf teroris di Palembang dan Jawa Tengah, semakin menunjukkan bahwa proliferasi kelompok ini berjalan dengan luas dan cepat. Indonesia yang lemah dan rawan di bawah Presiden SBY, akan terus menghadapi situasi teror ini di masa depan. [P1]

Manchester United Tawari Indonesia All Star bertanding di Kuala Lumpur
Kuala Lumpur - Manchester United sudah dipastikan batal datang dan bertanding di Indonesia. Sebagai gantinya, masih mungkin Indonesia All Star yang akan diboyong ke Kuala Lumpur.
Dua buah bom yang meledak di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott, Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (17/7/2009), yang menelan setidaknya 9 korban tewas, menjadi penyebab pembatalan kunjungan MU.
MU yang saat ini sudah berada di Kuala Lumpur, Malaysia, rencananya akan datang ke Jakarta, Sabtu (18/7) dan akan bertarung melawan Indonesia All Star pada Senin (20/7).
Sebagai ganti atas pembatalan itu, Chief Executive MU David Gill membuka kemungkinan akan tetap melakukan pertandingan MU vs Indonesia All Star, tetapi dengan venue di Kuala Lumpur, Malaysia.
"Ada beberapa hal yang kami pelajari. Kami bisa saja membawa tim Indonesia (All Star) ke sini," ungkap Gill dalam konferensi pers di Kuala Lumpur seperti dilansir situs resmi MU.
"Itu mungkin saja dan sesuatu yang sedang kami pelajari. Kami menerima semua kemungkinan yang berbeda dan menilai mana yang kiranya paling memungkinkan," imbuh Gill lagi.
"Kemungkinan, MU akan tetap tinggal di sini. Tetapi ada banyak hal yang harus kami lakukan sebelum kami membereskan persoalan logistik di sisa pekan ini," pungkas dia.
http://www.beritabola.com/liga-indonesia/mu-tawari-indonesia-all-star-tanding-di-kl.html
Dua buah bom yang meledak di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott, Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (17/7/2009), yang menelan setidaknya 9 korban tewas, menjadi penyebab pembatalan kunjungan MU.
MU yang saat ini sudah berada di Kuala Lumpur, Malaysia, rencananya akan datang ke Jakarta, Sabtu (18/7) dan akan bertarung melawan Indonesia All Star pada Senin (20/7).
Sebagai ganti atas pembatalan itu, Chief Executive MU David Gill membuka kemungkinan akan tetap melakukan pertandingan MU vs Indonesia All Star, tetapi dengan venue di Kuala Lumpur, Malaysia.
"Ada beberapa hal yang kami pelajari. Kami bisa saja membawa tim Indonesia (All Star) ke sini," ungkap Gill dalam konferensi pers di Kuala Lumpur seperti dilansir situs resmi MU.
"Itu mungkin saja dan sesuatu yang sedang kami pelajari. Kami menerima semua kemungkinan yang berbeda dan menilai mana yang kiranya paling memungkinkan," imbuh Gill lagi.
"Kemungkinan, MU akan tetap tinggal di sini. Tetapi ada banyak hal yang harus kami lakukan sebelum kami membereskan persoalan logistik di sisa pekan ini," pungkas dia.
http://www.beritabola.com/liga-indonesia/mu-tawari-indonesia-all-star-tanding-di-kl.html
Penembak Wajah SBY Tertangkap
Teroris yang melakukan latihan menembak dengan sasaran foto wajah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ternyata telah ditangkap di Kaltim."Pelakunya sudah kita tangkap," kata Kapolri Bambang Hendarso Danuri saat jumpa pers di Jakarta, Jumat (17/7).
Menurutnya, gambar itu diambil pada 5 Mei lalu di Kaltim. Tersangka sudah ditangkap dan akan segera diadili. "Dan sudah diakui oleh yang bersangkutan menjadikan SBY sebagai target," jelas Kapolri.
Kapolri juga kembali menegaskan bahwa foto yang ditunjukkan SBY saat jumpa pers di Istana Negara kemarin adalah asli. "Bisa dipertanggungjawabkan secara yuridis," tuturnya.
Serang BRIMOB
Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol Drs Rudi Pranoto yang dikonfirmasi terkait pernyataan Kapolri tentang penangkapan pelaku penembakan foto SBY di Kaltim menjelaskan, tersangka pelaku tersebut adalah Abu Zar alias Kismaninda alias Husain alias Udin (27), yang ditangkap anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri, 9 Mei 2009 lalu.
“Yang disebutkan Kapolri itu adalah Abu Zar, yang ditangkap di kawasan Gunung Samarinda, Balikpapan Selatan. Dia ditangkap karena terlibat dengan aksi terorisme dan penyerangan markas Brimob di Desa Loki, Seram Barat, Maluku 2006 lalu,” tegas Rudi.
Namun menyangkut aksi latihan menembak dengan sasaran foto SBY, Rudi menegaskan pihak Polda Kaltim tidak mengetahui. “Karena setelah ditangkap, Abu Zar langsung dibawa ke Mabes Polri. Pengembangan kasus itu sepenuhnya dilakukan oleh tim Densus 88 Mabes Polri. Kita tidak tahu, tentang keterkaitannya pada latihan menembak,” jelas Rudi.
Disinggung soal kemungkinan pelaksanaan latihan menembak tersebut dilakukan di Kaltim, Rudi membantahnya. “Tidak pernah ada latihan menembak seperti itu di Kaltim. Lebih jelasnya memang pihak Densus 88 atau Mabes Polri yang harus dikonfirmasi, karena pengembangan kasusnya di sana,” tegas mantan Kapolres Malinau itu lagi.
Abu Zar ditangkap atas sangkaan terlibat penyerangan pos Brimob Polda Kaltim yang menewaskan lima personel Brimob di Desa Loki, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Provinsi Maluku pada Senin, 16 Mei 2005 sekitar pukul 03.00 WIT.
Kelima personel Brimob yang tewas itu Bripol Ronny Susanto, Bripol Hasanuddin, Bripol Teguh Aristianto, Briptu Slamet Harianto, dan Bharada Damanik.
Sebelum ditangkap, Abu Zar menyamar sebagai penjaga toko bangunan di Jl Strat III RT 27 Kelurahan Gunung Samarinda. Penangkapan Abu Zar berlangsung rahasia dan cepat oleh Tim Densus 88 yang dipimpin langsung Komandan Densus 88 Mabes Polri Brigjend Pol Saut Usman Nasution.
Abu Zar dijebak di kantor Lurah Gunung Samarinda, Satu (9/5). Seorang polisi menyamar sebagai pembeli bahan bangunan minta diantarkan pesanannya di kantor kelurahan. Abu Zar yang mengawal barang dan Lukman sebagai sopir pikap, langsung disergap Densus Mabes Polri yang jumlahnya lebih 10 orang begitu sampai di halaman kantor lurah.
“Penangkapannya sangat cepat,” kata Ketua RT 27 Kelurahan Gunung Samarinda Kuswandi di rumahnya. “Setahu saya, Udin (Abu Zar, Red) itu bekerja di toko bangunan Pak Muslim. Dan, Lukman memang warga saya yang sudah lama tinggal di sini,” sambungnya.
Toko bangunan UD Yazid Jaya di Jl Strat III yang dijaga Abu Zar, juga tempat Lukman bekerja. Menurut Kuswandi, selain menjadi karyawan, Abu Zar juga bertugas sebagai penjaga toko sekaligus tinggal di sana. Sementara Lukman tinggal di Jl Strat III Gang AMD Nomor 22.
Langganan:
Postingan (Atom)